Pengaruh Televisi
PENDAHULUAN
Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan mampu mencapai berbagai kalangan pemirsa dalam jumlah banyak dan dalam waktu bersamaan. Dengan berbagai acara yang ditampilkannya, televisi mampu membius pemirsanya termasuk anak-anak sekalipun. Kehadiran televisi sesungguhnya telah menimbulkan berbagai fenomena. Khususnya bagi anak-anak, televisi sudah menjadi sahabat dan ?pengasuh? mereka. Televisi dan anak adalah dua komponen yang sangat sulit dipisahkan. Anak-anak adalah penggemar nomor satu televisi. Rata-rata anak menggunakan hampir sebagian besar waktunya untuk menonton acara televisi.
Televisi memang mampu menayangkan acara-acara yang menarik sehingga membuat anak-anak menganggap televisi sebagai kotak ajaib yang menghibur. Walaupun tanpa disadari, televisi mampu mengubah mereka sedikit demi sedikit. Sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV dapat membuat anak-anak pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian.
Terbukti, akhir-akhir ini banyak beredar berita mengenai aksi kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak karena meniru adegan yang mereka saksikan melalui layar televisi. Bukan hanya prilaku dari anak-anak tersebut yang dipengaruhi oleh TV melainkan juga gaya berkomunikasi mereka. Mulai dari pesan-pesan yang mereka tukarkan, pilihan kata yang mereka gunakan saat berkomunikasi, semua itu juga dipengaruhi oleh televisi. Anak-anak mempelajari gaya berbicara, juga mendapatkan berbagai kosa kata dari televisi. Untuk itulah, dalam tulisan ini saya tertarik untuk mengkaji besarnya pengaruh televisi terhadap gaya berkomunikasi anak-anak dengan menggunakan salah satu dari perspektif psikologi yaitu, Behaviorisme.
Behaviorisme sendiri merupakan salah satu dari empat perspektif dalam psikologi komunikasi. Teori Behaviorisme ini dirumuskan oleh John B. Watson (1878-1958) tepat pada peralihan abad ini. Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ?manusia mesin? (Homo Mechanicus).
PEMBAHASAN
Ketika anak-anak berinteraksi dengan televisi, suka atau tidak, akan muncul nilai-nilai baru yang tidak ditemui sebelumnya. Pada akhirnya nilai-nilai baru inilah yang akan terbawa menuju dunia nyata?ketika berinteraksi langsung dengan orang lain?baik disadari atau tidak. Ketika anak-anak melihat adegan pertengkaran di televisi untuk memecahkan masalah, maka dalam dunia nyata pun mereka akan mengikuti adegan tersebut. Mereka akan ikut berpikir bahwa pertengkaran adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Seperti yang dikatakan oleh kaum behavioris bahwa manusia belajar banyak hal dari lingkungan, termasuk juga dari media massa. Begitu pun dengan anak-anak yang juga belajar banyak hal dari televisi. Peranan televisi mampu mengisi keempat proses belajar tersebut. Media televisi melalui pesan?pesannya dapat mengakibat?kan anak-anak lebih memperhatikan suatu pesan tertentu, atau dapat mengakibatkan mereka untuk mengingat kembali pengalaman. Televisi juga dapat mendorong, atau mempercepat proses gerakan, reaksi untuk menciptakan kembali cara?cara yang sama yang pernah dilakukan.
Pengaruh media massa dalam hal ini televisi terhadap manusia juga telah dijelaskan dalam teori Jarum Hipodermik. Teori Jarum Hipodermik merupakan teori yang juga berasal dari perspektif Behaviorisme. Teori klasik ini mengungkapkan adanya efek dari media massa. Dalam teori ini isi media dipandang sebagai obat yang disuntikan ke dalam pembuluh darah pemirsanya.
Pada akhirnya, pesan-pesan yang ditampilkan oleh media televisi pada tingkat tertentu akan memberikan efek bagi anak-anak. Bisa dilihat dari bagaimana anak-anak mulai menirukan adegan yang ada di televisi. Anak-anak juga berkomunikasi layaknya tokoh-tokoh yang berperan dalam televisi. Mulai dari, gaya berbicara, tata bahasa, kosa kata mereka, semua dipelajari dari televisi.
Jika diperhatikan, anak-anak sekolah dasar pun sekarang sudah jauh lebih cepat mengenal kata cinta sampai kata-kata makian kasar yang tak pantas diucapkan anak-anak. Anak laki-laki sudah bisa mengeluarkan kata-kata untuk merayu teman perempuannya walaupun dari segi umur ia belum pantas melakukannya. Gaya berkomunikasi mereka pun sering kali terlihat lebih dewasa dari umurnya. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh tayangan-tayangan seperti sinetron ataupun serial kartun yang mendominasi acara-acara di TV akhir-akhir ini.
Contoh sederhananya, anak-anak lebih cepat mengerti kata Cinta dan lebih agresif untuk mengutarakan kata tersebut terhadap orang yang ia sukai. Hal ini dikarena mereka sering mendengar kata tersebut di televisi seiring dengan semakin menjamurnya sinetron-sinetron dewasa, bahkan pada serial kartun anak pun kata cinta terhadap lawan jenis sering diumbar. Akibatnya anak-anak pun mengikuti rangsangan yang mereka terima dari Televisi.
Anak-anak yang menjadi anggota khalayak media massa dapat mengamati atau membaca perilaku model (bisa dari tokoh kartun, artis pujaan) yang ditunjukkan melalui sebagian isi media televisi. Berbagai pengamatan yang secara tidak langsung dilakukan oleh anak-anak saat menyaksikan tayangan di TV, akan mendorong mereka untuk? mengidentifikasi model model dalam layar kaca sampai lambat laun mereka akan menyukai model tersebut, ingin menjadi seperti model itu, atau melihat model sebagai daya tarik yang cepat dan patut ditiru.
Kaum Behavioris meyakini manusia belajar banyak hal dari apa yang mereka saksikan melalui televisi. Kemudian ketika mereka mengalami suatu keadaan yang sama seperti yang pernah mereka saksikan di layar TV, maka mereka akan cenderung untuk mengikuti apa yang pernah mereka saksikan di TV.
Misalnya, ketika mereka menyaksikan serial kartun Sinchan. Sinchan adalah tokoh kartun yang nakal, ketika ibunya memarahinya, maka Sinchan akan membalasnya dengan kata-kata yang tidak sopan. Maka ketika anak-anak pun dimarahi oleh ibunya, ia cenderung untuk ikut mengeluarkan kata-kata tidak sopan. Selain itu, sering terdapat adegan di mana Sinchan sering kali berbicara layaknya orang dewasa ketika bertemu gadis cantik. Anak laki-laki pun akan mengikuti hal ini. Anak-anak bisa saja menganggap segala hal negatif yang mereka saksikan di TV sebagai hal yang benar dan wajar jika diikuti.
(Rahmatul Furqan-OpiniOl)
Berapa lama buah hati Anda menghabiskan waktu di depan televisi atau komputer? Sebuah penelitian di Inggris mengungkap bahwa anak yang menghabiskan waktu terlalu banyak di depan dua media elektronik itu berisiko mengalami hambatan komunikasi.
Seperti dikutip dari laman DailyMail, penelitian tersebut dilakukan melalui survei terhadap 6.000 orang, termasuk 3.000 orangtua di Inggris.
Satu dari enam orangtua berpendapat, terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar merupakan penyumbang utama terhadap masalah komunikasi. Di Inggris, masalah ini mengganggu perkembangan komunikasi pada sedikitnya satu juta anak.
Sebanyak 51 persen responden berpikir bahwa anak-anak yang terlalu sering menyaksikan acara televisi akan mengalami hambatan komunikasi dengan orangtuanya. Bahkan, juga bisa membuat anak yang baru belajar bicara mengalami kesulitan memahami bahasa.
Sementara 16 persen orang dewasa dan 17 persen orangtua juga meyakini bahwa menghabiskan waktu terlalu banyak di depan televisi menjadi penyebab utama kesulitan berbicara, berbahasa, dan menghambat kebutuhan komunikasi.
Meski demikian, faktor genetik dan biologis juga memengaruhi tingkat hambatan komunikasi pada anak.
"Sebanyak 10 persen atau sekitar 2-3 anak di setiap kelas di Inggris, mengalami kesulitan komunikasi jangka panjang yang berbasis biologis," kata Jean Gross, pakar komunikasi di Inggris. "Otak mereka tidak melakukan proses memahami bahasa yang cukup baik seperti otak anak-anak lain."
Mendukung penelitian itu, Laporan Ofsted awal bulan ini menemukan, anak-anak berjuang keras agar dapat membaca dan menulis lantaran mengalami hambatan berbicara atau mendengarkan dengan baik sejak kecil.
Studi terpisah mengungkap, anak-anak cenderung mengalami hambatan berbicara dan mendengarkan akibat kebisingan lingkungan sekitar dan percakapan minim di lingkungan keluarga. "Siaran televisi dengan volume besar, ditambah keriuhan suasana rumah bisa semakin menghambat kemampuan bahasa anak-anak," kata Gross.
KESIMPULAN
Bagi orang dewasa, mungkin apa yangditampilkan oleh televisi itu bukanlah sebuah masalah besar, sebab merekasudah mampu memilih, memilah dan memahami apa yang ditayangkan di layartelevisi. Namun bagaimana dengan anak-anak? Dengan segala kepolosan yangdimilikinya, belum tentu mereka mampu menginterpretasikan apa yang merekasaksikan di layar televisi dengan tepat dan benar. Padahal Keith W. Mielkesebagaimana dikutip oleh Arini Hidayati dalam bukunya berjudul Televisi danPerkembangan Sosial Anak mengatakan bahwa:Masalah paling mendasarbukanlah jumlah jam yang dilewatkan si anak untuk menonton televisi, melainkanprogram-program yang ia tonton dan bagaimana para orang tua serta gurumemanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatanbelajar mereka.(1998:74).Dari kutipan tersebut diatas jelas bahwa yang harusdiwaspadai oleh para guru dan orang tua adalah acara apa yang ditonton anak ditelevisi itu dan bukannya berapa lama anak menonton televisi. Padahalkecenderungan yang ada justru sebaliknya. Orang tua jarang benar-benarmemperhatikan apa yang ditonton anak-anaknya dan lebih sering melarang anak-anak agar jangan menonton televisi terlalu lama karena bisa mengganggu jambelajar mereka





0 komentar:
Posting Komentar